Tanda Bahaya

Preeklampsia pada Ibu Hamil: Kenali Tanda, Risiko, dan Cara Mencegahnya

Admin PrenaTalks9 September 20266 menit baca
Preeklampsia pada Ibu Hamil: Kenali Tanda, Risiko, dan Cara Mencegahnya

“Bunda, tekanan darahnya agak tinggi. Kita perlu memeriksanya lebih lanjut.”

Kalimat sederhana seperti ini mungkin pernah Bunda dengar saat melakukan pemeriksaan kehamilan. Jangan langsung panik. Namun, jangan pula mengabaikannya. Salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian adalah preeklampsia.

Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang berkaitan dengan tekanan darah tinggi dan dapat memengaruhi kesehatan ibu maupun bayi. Kondisi ini umumnya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu. Pada sebagian ibu, preeklampsia dapat berkembang tanpa keluhan yang jelas sehingga pemeriksaan kehamilan secara rutin menjadi sangat penting.

Apa Itu Preeklampsia?

Preeklampsia adalah gangguan hipertensi pada kehamilan yang biasanya terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan dapat disertai protein dalam urine atau tanda gangguan pada organ tubuh.

Secara umum, tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih setelah usia kehamilan 20 minggu merupakan kondisi yang perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan. Diagnosis preeklampsia tidak hanya ditentukan dari satu kali pengukuran tekanan darah. Bidan atau dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan sesuai kondisi ibu.

Jadi, ketika bidan meminta Bunda mengukur tekanan darah kembali, memeriksa urine, atau melakukan pemeriksaan laboratorium, bukan berarti Bunda pasti mengalami preeklampsia. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi Bunda dan mendeteksi masalah sedini mungkin.

Mengapa Preeklampsia Perlu Diwaspadai?

Preeklampsia bukan sekadar “tekanan darah tinggi saat hamil”.

Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi eklampsia, yaitu keadaan yang dapat menyebabkan kejang dan mengancam keselamatan ibu. Preeklampsia juga dapat berhubungan dengan gangguan fungsi ginjal, hati, otak, masalah pada plasenta, pertumbuhan janin terhambat, hingga persalinan prematur.

Menurut World Health Organization (WHO), preeklampsia merupakan salah satu gangguan hipertensi pada kehamilan yang berdampak besar terhadap kesehatan ibu dan bayi. WHO memperkirakan preeklampsia memengaruhi sekitar 3–8% perempuan yang melahirkan di seluruh dunia.

Karena itu, semakin cepat kondisi ini dikenali, semakin besar kesempatan untuk mendapatkan pemantauan dan penanganan yang sesuai.

Tanda Preeklampsia yang Perlu Bunda Kenali

Hal yang membuat preeklampsia perlu diperhatikan adalah tidak semua ibu merasakan gejala yang jelas. Ada ibu yang merasa baik-baik saja meskipun tekanan darahnya meningkat.

Namun, beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

1. Tekanan darah tinggi

Tekanan darah ≥140/90 mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu perlu mendapatkan evaluasi tenaga kesehatan. Pemeriksaan tekanan darah menjadi bagian penting dalam pemantauan kehamilan.

2. Sakit kepala berat atau terus-menerus

Sakit kepala yang terasa berat, menetap, atau berbeda dari biasanya perlu diperhatikan terutama jika disertai keluhan lain.

3. Gangguan penglihatan

Bunda dapat mengalami penglihatan kabur, melihat bintik atau kilatan cahaya, atau perubahan penglihatan lainnya.

4. Nyeri di bagian atas perut

Rasa nyeri terutama pada bagian kanan atas perut dapat menjadi salah satu tanda yang perlu segera diperiksa.

5. Bengkak pada wajah dan tangan

Pembengkakan dapat terjadi secara fisiologis selama kehamilan. Namun, pembengkakan yang muncul secara berlebihan atau disertai keluhan lain perlu dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

6. Mual dan muntah yang tidak biasa

Mual dan muntah setelah trimester pertama, terutama jika muncul bersama gejala lain, perlu mendapatkan perhatian medis.

Penting: jangan menunggu sampai semua tanda tersebut muncul. Preeklampsia dapat terjadi dengan sedikit atau tanpa gejala sehingga pemeriksaan antenatal tetap menjadi bagian penting dalam deteksi dini.

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Preeklampsia?

Tidak semua ibu hamil memiliki risiko yang sama. Beberapa kondisi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya preeklampsia, antara lain:

  • kehamilan pertama;

  • kehamilan kembar;

  • memiliki riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya;

  • memiliki keluarga dengan riwayat preeklampsia;

  • obesitas;

  • hipertensi sebelum hamil;

  • diabetes;

  • penyakit ginjal atau kondisi kesehatan tertentu lainnya.

Namun, memiliki faktor risiko bukan berarti Bunda pasti mengalami preeklampsia. Sebaliknya, ibu tanpa faktor risiko yang jelas tetap dapat mengalami kondisi tersebut. Inilah alasan pemeriksaan kehamilan tidak boleh dilewatkan.

Mengapa Pemeriksaan Kehamilan Sangat Penting?

Bayangkan preeklampsia seperti alarm yang kadang berbunyi keras, tetapi kadang hanya memberikan sinyal kecil.

Bunda mungkin tidak merasakan apa-apa. Namun, ketika tekanan darah diperiksa, tenaga kesehatan dapat menemukan adanya peningkatan tekanan darah. Pemeriksaan urine dan pemeriksaan lainnya kemudian dapat membantu menentukan apakah diperlukan evaluasi lebih lanjut.

Karena itu, pemeriksaan antenatal bukan hanya untuk mengetahui berat badan ibu dan pertumbuhan bayi. Pemeriksaan juga bertujuan memantau kondisi kesehatan ibu, mendeteksi faktor risiko, dan menemukan komplikasi sedini mungkin.

Informasi mengenai pemeriksaan kehamilan juga dapat Bunda baca melalui artikel PrenaTalks tentang [tanda bahaya kehamilan] dan [persiapan persalinan].

Apakah Preeklampsia Bisa Dicegah?

Tidak ada cara yang dapat menjamin seseorang terbebas sepenuhnya dari preeklampsia. Namun, risiko dapat dikelola melalui pemantauan kehamilan yang baik dan penanganan faktor risiko.

WHO merekomendasikan beberapa strategi pencegahan pada kelompok tertentu, termasuk penggunaan aspirin dosis rendah bagi ibu yang memiliki risiko tinggi sesuai indikasi tenaga kesehatan serta suplementasi kalsium pada populasi dengan asupan kalsium yang rendah.

Bunda tidak dianjurkan mengonsumsi aspirin atau obat tertentu atas keputusan sendiri. Pemilihan obat, dosis, dan waktu pemberian harus berdasarkan penilaian bidan atau dokter.

Hal sederhana yang dapat dilakukan adalah:

  1. melakukan pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal;

  2. memantau tekanan darah;

  3. mengikuti pemeriksaan urine dan laboratorium bila dianjurkan;

  4. menyampaikan setiap keluhan kepada bidan atau dokter;

  5. mengonsumsi obat dan suplemen sesuai anjuran tenaga kesehatan;

  6. menjaga pola makan dan aktivitas sesuai kondisi kehamilan.

Kapan Bunda Harus Segera Mencari Pertolongan?

Jangan menunggu jadwal kontrol berikutnya apabila Bunda mengalami sakit kepala berat atau menetap, gangguan penglihatan, nyeri hebat pada bagian atas perut, sesak napas, kejang, atau tekanan darah tinggi yang diketahui dari hasil pengukuran.

Kondisi tersebut membutuhkan penilaian tenaga kesehatan segera. Preeklampsia yang berat dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa sehingga keterlambatan penanganan perlu dihindari.

Bunda dapat membaca informasi resmi mengenai preeklampsia melalui World Health Organization (WHO) dan artikel edukasi Kementerian Kesehatan RI tentang preeklampsia.

Jangan Takut Bertanya kepada Bidan atau Dokter

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam kehamilan: Bunda berhak bertanya.

Jika tekanan darah Bunda meningkat, jangan ragu bertanya:

“Apakah tekanan darah saya normal?”

“Apakah saya perlu pemeriksaan urine?”

“Apa tanda bahaya yang harus saya perhatikan di rumah?”

“Kapan saya harus kembali untuk pemeriksaan?”

Komunikasi yang baik antara ibu hamil dan tenaga kesehatan dapat membantu Bunda memahami kondisi kehamilan dan mengambil keputusan yang tepat.

Ingat 3 Kata: Periksa, Kenali, Bertindak

Preeklampsia memang terdengar menakutkan. Namun, pengetahuan dapat membuat Bunda lebih siap.

Periksa kehamilan secara rutin.
Kenali tanda dan faktor risikonya.
Bertindak segera jika muncul tanda bahaya.

Jangan menunggu tubuh memberikan “alarm” yang keras. Pemeriksaan rutin adalah salah satu cara penting untuk mengetahui kondisi yang mungkin tidak Bunda rasakan.

Kehamilan yang sehat bukan berarti tidak pernah memiliki keluhan. Kehamilan yang sehat adalah kehamilan yang dipantau dan mendapatkan pertolongan yang tepat ketika dibutuhkan.

Catatan untuk Bunda

Artikel ini merupakan informasi edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan atau diagnosis oleh bidan, dokter, maupun tenaga kesehatan lainnya. Setiap ibu memiliki kondisi kehamilan yang berbeda sehingga keputusan mengenai pemeriksaan, obat, atau tindakan medis perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Sumber rujukan

1. World Health Organization. (2025). Pre-eclampsia. World Health Organization. 2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Mengenal preeklampsia. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan.

Ditinjau terakhir: 9 September 2026

Bagikan ke WhatsApp